Bapak dan Ibu Tiri Miftah Ramadhani Tak Pernah Menelantarkan

Bapak dan Ibu Tiri Miftah Ramadhani Tak Pernah Menelantarkan

Bapak dan Ibu Tiri Miftah Ramadhani Tak Pernah Menelantarkan

Bapak dan Ibu Tiri Miftah Ramadhani Tak Pernah Menelantarkan

Bapak dan Ibu Tiri Miftah Ramadhani Tak Pernah Menelantarkan

Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Sigit Dany Setiono menegaskan, tidak ditemukan dugaan penelantaran pihak keluarga terhadap kasus Miftah Ramadhani (21) warga Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

“Selasa, 12 Februari 2019, pukul 07.30 WIB, jajaran Muspika Jetis terdiri dari Camat, Kapolsek dan Danramil melaksanakan peninjauan ke rumah bapak Purdan Harianto di Desa Kupang, Jetis yang anaknya, Miftah Ramadhani (21) menderita sakit tulang belakang,” ungkapnya, Rabu (13/2/2019).

Masih kata Kapolresta, dari konfirmasi kepada pihak keluarga, Miftah

mengalami depresi semenjak ditinggal meninggal ibu kandung dan neneknya. Selanjutnya bersama Muspika, pihak Puskesmas Jetis merujuk Miftah RSI Sakinah dibawah pengawasan Dokter Rosyid yang selama ini merawat Miftah.
Baca Juga:

Miftah Gadis Tulang Berbalut Kulit Diduga Kebanyakan Minum Obat
Pihak Sekolah Akui Video Pelajar Remas ‘Bagian Tubuh Sensitif’ Muridnya
Pelaku Tabrak Lari Korban Nenek-nenek di Surabaya Berhasil Diringkus
Foto Ibu Hamil Ditandu di Ponorogo Viral

“Terkait isu penelantaran, pihak kepolisian meyakinkan tidak terbukti. Dari kaca mata Pasal 76 UU Nomor 35

Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang mengatur batasan tentang penelantaran anak, tidak ditemukan adanya tindakan keluarga yang mengarah pada unsur penelantaran,” jelasnya.

Sebagaimana yang diakui keluarga, lanjut Kapolresta, Miftah selama ini tetap tinggal di rumah

bersama dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Kamar Miftah berada di belakang agar memudahkan proses perawatan kebutuhan pribadinya karena Miftah tidak dapat bergerak dari tempat tidur.

“Pengobatan pun terus diupayakan pihak keluarga dengan berbagai keterbatasan. Namun kondisi fisik dan lingkungan yang terbatas membuat ia tertekan dan mengalami depresi berkepanjangn. Saat ini muspika dan keluarga sedang merencanakan upaya perawatan dan pengobatan dengan bantuan dari kepala desa dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

 

Sumber :

https://www.ram.co.id/