Beberapa Peribahasa Indonesia

Beberapa Peribahasa Indonesia

Beberapa Peribahasa Indonesia

Beberapa Peribahasa Indonesia

Beberapa Peribahasa Indonesia

Ada asap ada api.

Tak dapat dipisahkan, munculnya suatu kejadian / masalah pasti ada penyebabnya.

Ada gula ada semut.

Di mana banyak kesenangan di situlah banyak orang datang.

Ada udang di balik batu.

Ada suatu maksud yang tersembunyi.

Adat teluk timbunan kapal, adat gunung tepatan kabut.

Meminta hendaknya kepada yang punya, bertanya hendaknya kepada yang pandai.

Air beriak tanda tak dalam.

Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.

Air besar batu bersibak.

Persaudaraan akan bercerai berai apabila terjadi perselisihan.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Biasanya sifat anak menurut teladan orang tuanya juga.

Air susu dibalas dengan air tuba.

Kebaikan dibalas dengan kejahatan / keburukan.

 

Air tenang jangan disangka tiada buayanya.

Orang yang diam jangan disangka pengecut.

Air tenang menghanyutkan.

Orang yang pendiam biasanya banyak pengetahuannya.

Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam.

Tidak enak makan dan minum ( biasanya karena terlalu bersedih / duka ).

Alah bisa karena biasa.

Segala kesukaran tak akan terasa lagi bila sudah biasa.

Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan.

Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.

 

Anjing menggonggong, khafilah berlalu.

Biarpun banyak rintangan dalam usaha kita, kita tidak boleh putus asa.

Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui.

Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.

Api dalam sekam.

Perbuatan jahat yang tak tampak.

 

Bagai api dengan asap.

Tidak dapat dipisahkan.

Bagai bara dalam sekam.

Perbuatan jahat yang tak tampak.

Bagai bulan kesiangan.

Pucat dan lesu.

Bagai duri dalam daging.

Selalu terasa tidak menyenangkan hati.

Bagai kacang lupa akan kulitnya.

Tidak tahu diri, lupa akan asalnya.

Bagai katak dalam tempurung.

Sangat sedikit pengetahuannya, kurang luas pandangannnya.

 

Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.

Hidup dalam kesukaran / kesengsaraan.

Bagai kerbau dicocok hidung.

Menurut saja apa yang menjadi keinginan orang.

Bagai mencincang air.

Mengerjakan perbuatan yang sia-sia.

 

Baca Juga :