Cara-Cara Ijtihad Imam Syafi’i

 Cara-Cara Ijtihad Imam Syafi’i

Seperti Imam Madzhab lainnya, Imam Syafi’i menentukan thuruq al-istinbath al-ahkam tersendiri. Adapun langkah-langkah ijtihadnya adalah sebagai berikut :[21]

1)      Dhahir-dhahir Al-Qur’an selama belum ada dalil yang menegaskan, bahwa yang dimaksud bukan dhahirnya.

2)      Sunnatur Rasul

As-Syafi’i mempertahankan hadits ahad selama perawinya kepercayaan, kokoh ingatan dan bersambung sanadnya kepada Rasul. Beliau tidak mensyaratkan selain daripada itu. Lantaran itulah beliau dipandang Pembela Hadits. Beliau menyamakan Sunnah yang shahih dengan Al-Qur’an.

3)      Ijma’ menurut pahamnya ialah : ” tidak diketahui ada perselisihan pada hukum yang dimaksudkan”. Beliau berpendapat, bahwa meyakini telah terjadi persesuaian paham segala ulama tidak mungkin.

4)      Qiyas, beliau menolak dasar istihsan dan dasar istishlah.

Metodologi ijtihad Imam Syafi’i tidak ada yang menggunakan logika kecuali terbatas pada Qiyas saja.

5)      Istdlal.

As-Syafi’i dapat memahamkan dengan baik fiqh ulam Hijaz dan fiqh ulama Iraq dan beliau terkenal dalam medan munadharah sebagai seorang yang sukar dipatahkan hujjahnya.

  1. Qaul Qadim dan Qaul Jadid[22]

Ahmad Amin (II, t.th:231) menjelaskan bahwa ulama membagi pendapat as-syafi’i menjadi dua: qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim adalah pendapat as-syafi’i yang dikemukakan dan di tulis di Irak. Sedangkan qaul jadid adalah pendapat imam as-syafi’i yang dikemukakan dan di tulis di Mesir.

Muhammad Sya’ban Ismail mengatakan bahwa pada tahun 195 H, Imam Syafi’i tinggal di irak pada zaman pemerintahan al-Amin. Di Irak, ia belajar kepada ulama Irak dan banyak mengambil pendapat Ulama Irak yang termasuk ahlu ra’yi. Di antara ulama irak yang banyak mengambil pendapat Imam Syafi’i dan berhasil dipengaruhinya adalah Ahmad Ibn Hanbal, al-Karabisi, al-Za’farani, dan Abu Tsaur.

Setelah tinggal di Irak, as-Syafi’i melakukan perjalanan ke Mesir kemudian tinggal di sana . di Mesir, ia bertemu dengan (dan berguru kepada ) ulama Mesir yang pada umumnya sahabat Imam Malik. Imam Malik adalah penurus fikih ulama Madinah yang dikenal  sebagai ahli hadits . karena perjalanan intelektualnya itu, imam as-Syafi’i mengubah beberapa pendapatnya yang kemudian disebut qaul jadid. Dengan demikian, qaul qadim adalah pendapat imam as-syafi’i yang bercorak ra’yu. Sedangkan qaul jadid adalah pendapatnya yang bercorak hadits.

Sebab terbentuknya qaul qadim dan qaul jadid adalah karena imam Syafi’i mendengar (dan menemukan) hadits dan fiqih yang diriwayatkan ulama mesir yang tergolong ahlu hadits.ada yang mengatakan bahwa pendapat imam Syafi’i yang didektekan dan ditulis di Irak disebut qaul qadim.

Recent Posts