Di Bojonegoro, Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Di Bojonegoro, Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Di Bojonegoro, Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Di Bojonegoro, Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Di Bojonegoro, Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Jumlah dokter spesialis yang membuka praktek di Kabupaten Bojonegoro terus bertambah.

Dokter spesialis yang membuka praktek secara pribadi itu juga merupakan dokter yang bertugas di rumah sakit swasta maupun rumah sakit daerah.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 2017 jumlah praktek dokter spesialis sebanyak 235 kepemilikan. Jumlah tersebut sama dengan tahun sebelumnya (2016). Sedangkan, pada 2015 dokter praktek sebanyak 211 kepemilikan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Dr Hernowo mengatakan

, sejauh ini banyaknya jumlah dokter praktek spesialis memang masih terpusat di kawasan kota. “Untuk dokter spesialis masih terpusat di kota,” ujarnya, Minggu (4/8/2019).
Baca Juga:

NGO BI Ciptakan Web Berbasis Keterbukaan Data Pengadaan Barang dan Jasa
Banjir, Warga Kompleks TPK Bojonegoro Terisolir
Jalur Alternatif Bojonegoro-Lamongan-Jombang Dibuka, Jika…
Polres Bojonegoro Razia Pintu Keluar Masuk Kota

Sedangkan pada 2019 ini jumlah dokter umum dan dokter spesialis ada sebanyak 350 dokter. Pelayanan kesehatan di kecamatan-kecamatan sekarang hanya pelayanan umum melalui puskesmas, maupun klinik. Jumlah fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit ada 10 unit rumah sakit.

Jumlah rumah sakit tersebut, dengan rincian tiga rumah sakit milik daerah, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo

di Kecamatan Bojonegoro, RSUD di Kecamatan Padangan dan RSUD di Kecamatan Sumberejo. “Sedangkan untuk puskesmas ada 36 puskesmas dan seluruh desa ada polindes,” terangnya.

Selain itu, lanjut dia, sebanyak 32 dusun terpencil saat ini sudah ditempatkan bidan. Sehingga, kata dia, semua desa sudah mendapat pelayanan kesehatan yang bisa diakses masyarakat. Sedangkan, akses informasi kesehatan secara online pihaknya kini masih melakukan pengembangan.

“Dinas kesehatan lagi mengembangkan e-healt yang bisa diakses untuk mengetahui, berapa bad yang kosong di rumah sakit, dll. Tapi masalahnya sekarang update dari rumah sakit yang lambat. Dan sekarang lagi pembenahan,” pungkasnya.

Hal itu disampaikan dalam diskusi panel Road Show Jurnalisme Warga yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dengan dukungan dari Uni Eropa dan Hivos Open Contracting melalui program SPEAK (Strengthening Public Services through the Empowerment of Women-led Advocacy and Social Audit Networks).

Sementara, Sekretaris AJI Bojonegoro, Khorij Zaenal Asrori mengatakan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Bojonegoro harus lebih terbuka dalam memberi pelayanan masyarakat. “Jika memang Dinkes memiliki program yang baik, pers juga akan mendukung, karena memang sekarang good news is news,” katanya.

 

Baca Juga :