ESTETIKA DALAM PENDIDIKAN

ESTETIKA DALAM PENDIDIKAN – Soal baik dan buruk telah dibicarakan dalam etika, kini kita membicarakan soal indah dan keindahan. Penilaian baik dan buruk kerap dikaitkan dengan tingkah laku dan ethical atau tindakan manusia,sedangkan nilai indah dan tak indah cenderung diarahkan ke dalam segala hal yang berkaitan dengan seni. Estetika berusaha untuk menemukan nilai indah secara umum yang kemudian dalam perkembangannya bermunculan beberapa teori yang berkaitan dengan estetika.

Estetika berasal dari bahasa Yunani “aisthetika” pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gotlieb Baumgarten pada 1735 yang diartikan sebagai ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.

Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang berkaitan dengan seni. Secara sederhana diartikan estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk dan bagaimna seseorang bisa merasakan estetika sebagai sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dinggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa.

Timbul pertanyaan, apakah nilai keindahan itu merupakan sifat yang dimiliki objek atau terletak pada orang yang menilai (subjek). Jika nilai indah itu terletak pada objek dan dipandang dengan sudut dan cara pandang yang sama maka akan menghasilkan kesimpulan yang sama tentang sesuatu. Jika nilai itu terletak pada subjek, maka hasil penilaian itu akan bergantung pada perasaan masing-masing subjek.

Teori lama tentang keindahan, bersifat metafisik sedang teori present day bersifat psikologis. Menurut Plato, keindahan adalah realitas yang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Sekalipun plato menyatakan bahwaharmonis, proporsi, dan simentris adalah unsur yang membentuk keindahan, namunia tetap memikirkan adanya unsur-unsur metafisik. Bagi Plotinus keindahan itu merupakan pancaran akal Ilahi. Bila yang hakikat (Ilahi) Ia menyatakan dirinya atau memancarkan sinar pada, atau dalam realitas penuh, maka itulah keindahan.

Kant dalam studi ilmiah psikologi tentang estetika menyatakan, akal itu memiliki indera ketiga atas pikir dan kemauan yaitu indera rasa yang memiliki kekhususan, yaitu kesenangan estetika.

Adapun yang mendasari hubungan antara estetika dan pendidikan adalah lebih menitikberatkan kepada “predikat” keindahan yang diberikan kepada hasil seni. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Randall dan Buchler mengemukakan ada tiga interpretasi tentang hakikat seni:

1. Seni sebagai penembusan terhadap realitas selain pengalaman
2. Seni sebagai alat kesenangan
3. Seni sebagai ekspresi yang sebenarnya tentang pengalaman.

Dengan demikian diharapkan di dalam dunia pendidikan, estetika akan mampu menciptakan dan membentuk kepribadian yang mampu bersikap kreatif dan bermoral sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi dengan segala kepatutan keindahan dan seni.

Sumber : https://bit.ly/2KqzyMX