Hutang Bersyarat

 Hutang Bersyarat

  1. Syarat Fasid Pada Mufsid

Yaitu klausal yang disyaratkan dalam akad qardlu yang memberikan keuntungan (naf’an) sepihak, muqridl saja. Seperti memberikan pinjaman hutang dengan syarat mengembalikan dengan nilai lebih. Syarat yang demikian itu dapat membatalkan mufsid (akad) karena termasuk dalam riba qardli.

Dalam buku lain disebutkan bahwa dalam sisi pengambilan manfaatnya para ulama sepakat bahwa setiap utang yang mengambil manfaat hukumnya haram, apabila hal itu disyaratkan atau ditetapkan dalam perjanjian.[12]

Hal di atas juga bertentangan dengan konsekuensi akad qardlu karena akad ini dilakukan dengan dasar saling tolong-menolong.

Namun, apabila manfaat (kelebihan) tidak disyaratkan pada waktu akad maka hukumnya boleh.[13] Dan justru disunnahkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana sabda Nabi:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang paing baik dalam membayar utang.”

Atau syarat kelebihan tersebut disyaratkan di luar transaksi (kharij al-‘aqd), terdapat dua pendapat akan hukum akad qardl:

2.5    Menurut Syafi’iyah, sah namun makruh.

2.6    Menurut A’immah Tsalatsah, haram.

Di lain kasus apabila seorang peminjam sudah terbiasa memberikan tambahan ketika ia menegmbalikannya. Atas kasus tersebut terdapat perbedaan antar ulama, ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak.

Sementara itu, untuk hukum dari dosa orang yang melakukan praktek riba qardli ini, menurut sebagian ulama hanya ditanggung oleh muqridl, dan sebagian lagi beranggapan bahwa dosanya ditanggung oleh kedua belah pihak.

  1. Syarat Fasid Tidak Mufsid

Persyaratan yang ada dalam klausul ini merupakan persyaratan yang menguntungkan salah satu pihak yakni muqtaridl atau menguntungkan kedua belah pihak namun lebih condong pada muqtaridl.

Semisal perjanjian hutang piutang yang berisi pengembalian yang kurang dari jumlah hutang itu sendiri dan juga tempo yang ditentukan karena melihat kondisi keuangan pihak muqtaridl.

Menurut qaul ashah, klausul kedua ini termasuk syarat yang tidak dihiraukan. (mulghah), sehingga tidak membatalakan akad qardlu (ghair mufsid)[14]. Hal tersebut dikarenakan tujuan dari akad tersebut tidak untuk mencari keuntungan melainkan untuk saling tolong-menolong. Namun, terdapat pendapat lain yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat membatalkan akad dikarenakan konsekuensi akad qardlu yang mengaharuskan untuk mengembalikan hutang tersebut tanpa ditambahi maupun dikurangi.

 

Sumber :

https://callcenters.id/