Intellectual Capital dalam Pelaporan Keuangan

Intellectual Capital dalam Pelaporan Keuangan

Intellectual Capital dalam Pelaporan Keuangan

Intellectual Capital dalam Pelaporan Keuangan

Intellectual Capital dalam Pelaporan Keuangan

Sudah cukup lama saya tidak mempost tulisan karena kesibukan, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk menulis lagi karena pertanyaan dari mentor saya dulu mengenai bagaimanakah pengaturan akuntansi untuk intellectual capital. Dalam aset takberwujud belum ada pengaturan untuk penyajian, pengakuan, pengukuran, dan pengungkapannya. Untuk informasi, intellectual capital dapat dibaca dulu di sini Akhirnya, berikut ini paparan dari saya.

Permasalahan ini pernah saya diskusikan bersama beberapa teman dan sudah ketemu jawabannya. Pertanyaan muncul ketika saya berpikir bahwa untuk suatu institusi seperti IAI, valuenya adalah pakar-pakar IFRS dan SAK. Jika para pakar tersebut tiba-tiba hilang, maka sebetulnya IAI telah kehilangan value yang sangat besar. Pertanyaannya, di manakah posisi pakar (manusia) tersebut dalam laporan keuangan? Kenapa pakar tersebut tidak dimasukkan saja dalam aset (aset takberwujud)? Sebetulnya, pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan mengenai Intellectual Capital (IC). Bedanya, Human Capital itu bagian dari IC. Permasalahan ini terjawab (sepengetahuan kami) menggunakan prinsip akuntansi.

  • Pertama, dalam prinsip akuntansi, terdapat konsep kesatuan usaha, yaitu entitas terpisah dari pemilik dan dianggap sebagai satu entitas yang berdiri sendiri. Selain itu, entitas didirikan untuk berkinerja bagi pemilik.
  • Kedua, definisi dari aset adalah sumber daya yang dikuasai secara substansi ekonomi (risiko dan manfaatnya) oleh entitas, memiliki manfaat ekonomik (umur dan nilai), dan berasal dari transaksi di masa lalu. Selain itu, aset harus diketahui nilai perolehannya untuk menjadi dasar pengukuran awal.
  • Ketiga, konsep dari akuntansi adalah melaporkan kejadian keuangan (transaksi). Oleh karena itu, salah satu syarat dari pengakuan elemen atau akun adalah, dapat diukur dengan andal.
  • Keempat, dalam konsep upaya-hasil, entitas harus melakukan upaya untuk mendapatkan hasil. Jika tidak berupaya, maka tidak akan ada hasil. Upaya dari entitas adalah beban, dan hasilnya adalah pendapatan.
  • Kelima, akuntansi memiliki prinsip substansi mengungguli bentuk. Bahwa substansi ekonomik mengungguli bentuk hukumnya.

Saya akan membahas mengenai posisi manusia dalam laporan keuangan dulu, baru nanti di bawah pembahasan mengenai nilai-nilai Human Capital.

Dari prinsip-prinsip akuntansi di atas, dapat dijelaskan bahwa manusia tidak mungkin menjadi aset (dalam substansi akuntansi). Mengapa? Karena manusia tidak dikuasai oleh entitas. Implikasinya, manusia tidak dimiliki oleh pemilik. Manusia memiliki free will, walaupun manusia secara hukum dikontrak oleh entitas. Berdasar prinsip substansi mengungguli bentuk, walaupun secara hukum dikontrak, namun manusia dapat memutus kontraknya kapanpun atau pergi atas dasar free will ini. Entitas tidak memiliki pengendalian penuh atas manusia. Berbeda dengan mesin, gedung, peralatan, atau lisensi. Selain itu, ketika dikontrak (diakuisisi entitas), manusia tidak dapat ditentukan nilai perolehannya. Padahal ini salah satu syarat dari pengakuan dan pengukuran awal aset. Dalam kasus ini, teman saya bercerita tentang permainan sepak bola. Tim seperti Manchaster United biasanya membeli pemain bola. Lalu apakah pemain bola ini dicatat sebagai aset oleh MU? Saya browse ke laporan keuangan MU, ternyata manusia dicatat sebagai beban, dan yang dicatat sebagai aset adalah kontrak atau hak dari MU untuk menggunakan pemain tersebut (nilainya sebesar nilai kontrak akuisisi – transaksi pertukaran pemain). Jadi, tidak ada yang namanya jual beli manusia dalam tim sepak bola. Hal ini sepertinya analogi dengan akun Tanah atau Lisensi. Untuk perlakuan atas tanah, hak penggunaan tanah dikapitalisasi sebagai aset sebesar nilai perolehannya dan diamortisasi selama jangka waktunya. Untuk perlakuan atas lisensi (contohnya seperti pembelian Microsoft Windows genuine), lisensi dikapitalisasi sebesar nilai perolehannya (nilai kontraknya) dan diamortisasi selama jangka waktunya (jika tidak tercantum dalam kontrak, maka menggunakan estimasi kapan teknologi baru akan muncul).

Berdasarkan konsep upaya dan hasil, entitas harus mempekerjakan manusia untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu, mempekerjakan manusia ini merupakan beban yang muncul setiap periode entitas berkinerja (bukan aset yang didapat karena membeli atau mengakuisisi manusia). Dalam laporan keuangan, beban ini diukur sebesar upaya yang dikeluarkan entitas untuk membuat manusia tersebut bekerja tiap periodenya.

Dalam prinsip periodisasi, kinerja entitas (mengeluarkan upaya untuk mendapatkan hasil) diukur dan dicatat pada periode terjadinya. Oleh karena itu, beban gaji diukur dan dicatat pada periode terjadinya. Jika misalnya, suatu entitas memutuskan untuk membayar sejumlah tertentu untuk jangka waktu tertentu atas manusia, beban tersebut diperlakukan sama dengan beban dibayar di muka. Namun, hal ini jarang sekali terjadi. Beban gaji untuk manusia diukur tiap periode, karena manusia dapat mengalami promosi atau demosi, atau kenaikan gaji karena kompensasi inflasi, tiap periodenya.

Ada sebuah kelemahan dari akuntansi, yaitu akuntansi mencatat kejadian yang bersifat keuangan dan informasi-informasi material lain yang mendukung kejadian tersebut (informasi kualitatif material yang ada dalam Catatan Atas Laporan Keuangan). Dalam hal ini, akuntansi memang tidak pernah mampu menyajikan suatu kelebihan intrinsik nonkeuangan dari aset. Contohnya, suatu entitas A memiliki aset berupa Blackberry dengan cost Rp3.500.000, entitas B memiliki aset berupa Sony Ericcson Xperia dengan cost Rp3.500.000. Secara akuntansi, kedua entitas tersebut memiliki aset dengan cost yang sama yaitu, Rp.3.500.000. Namun, blackberry memiliki kelebihan dibanding Xperia pada fitur yang dapat meningkatkan kinerja serta efisiensi dan efektivitas pertukaran informasi, yaitu Blackberry Messenger (BBM). Dalam hal ini, akuntansi tidak mencatat fitur BBM dalam aset. Akuntansi hanya mencatat Rp3.500.000 dalam Blackberry.
Sebetulnya, keunggulan fitur BBM dalam Blackberry ini akan terlihat secara implisit dari laporan kinerja keuangan (laporan laba rugi). Artinya, nilai dari fitur BBM ini dapat ditunjukkan misalnya, dalam Laba yang lebih tinggi. Dalam contoh tadi, asumsikan entitas A dan B memiliki semua hal yang sama kecuali Blackberry dan Xperia. Logikanya, laba dari entitas A seharusnya lebih tinggi dibanding laba dari entitas B, atau kemampuan entitas A dalam mencari kredit akan lebih tinggi daripada entitas B. Hal ini dikarenakan keunggulan Blackberry dalam pertukaran informasi dengan fitur BBMnya. Hanya saja, nilai dari BBM ini tidak dapat ditampilkan secara eksplisit karena tidak dapat dikuantifikasi atau tidak dapat diukur dengan andal.

Baca Juga :