Kasus Cambridge Analytica, Facebook Terancam Denda Rp 9,5 Miliar

Kasus Cambridge Analytica, Facebook Terancam Denda Rp 9,5 Miliar

Kasus Cambridge Analytica, Facebook Terancam Denda Rp 9,5 Miliar

Skandal Cambridge Analytica (CA) membuat Facebook terancam dengan hukuman keuangan. Media sosial yang didirikan Mark Zuckerberg itu harus membayar denda awal sebesar USD 664 ribu atau berkisar Rp 9,5 miliar.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari laman USAToday, Sabtu (14/7), Kantor Komisi Informasi atau Information Commissioner Office (ICO) menyebut bahwa Facebook akan mendapat kesempatan untuk menjawab hukuman tersebut sebelum keputusan akhir dibuat.

Pejabat privasi utama Facebook Erin Egan mengatakan, Facebook seharusnya melakukan lebih banyak untuk menyelidiki klaim tentang Cambridge Analytica. “Kami telah bekerja sama dengan ICO dalam penyelidikan mereka terhadap Cambridge Analytica, seperti yang kami lakukan dengan pihak berwenang di Amerika Serikat (AS) dan negara lain. Kami sedang meninjau laporan dan akan segera menanggapi ICO,” kata Egan dalam sebuah pernyataan.

Kantor Komisi Informasi memimpin penyelidikan Eropa tentang bagaimana data sebanyak 87 juta pengguna Facebook di salah gunakan. Sebagian besar penduduk Amerika Serikat dan Inggris, bahkan 1 juta di antaranya pengguna dari Indonesia, dipanen datanya oleh Cambridge Analytica.

Dalam penyelidikannya, Kantor Komisi Informasi mengatakan Facebook gagal atas transparansi tentang bagaimana data penggunanya dimanfaatkan. Temuan itu menunjukkan bahwa skandal CA bisa menyebar ke masalah yang lebih jauh.

Penyelidikan Facebook sedang dilakukan oleh Komisi Perdagangan Federal

dapat menghasilkan penalti senilai ratusan miliar dolar. FBI dan Securities and Exchange Commission juga mencari koneksi Facebook dengan CA.

Facebook awalnya memperkirakan bahwa data sebanyak 2,7 juta orang Eropa

mungkin telah dibagikan dengan CA. Namun bulan lalu Facebook mengatakan kepada anggota parlemen Eropa bahwa data tersebut mungkin tidak dibagikan semuanya. Facebook mengatakan tidak akan tahu pasti sampai dapat melakukan audit sendiri.

Sementara untuk Indonesia, kasus kebocoran data memang sempat geger

beberapa bulan terakhir. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menyampaikan bahwa update terkait skandal CA, Facebook kepada Kemenkominfo mengatakan bahwa dari investigasi awal tidak ada data pengguna dari Indonesia yang tersedot oleh CA.

 

Baca Juga :