Kolaborasikan budaya dan teknologi

Kolaborasikan budaya dan teknologi fungsi menghadirkan matematika lebih menyenangkan

Pembelajaran matematika mempunyai fungsi benar-benar perlu di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini terbukti dengan dijadikannya matematika sebagai mata pelajaran pokok di dalam tiap tiap jenjang pendidikan, menjadi dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Fakta ini diperkuat dengan ujian nasional (UN) yang menjadikan matematika sebagai salah satu kompetensi kelulusan.

Namun, tak sedikit pendapat menyatakan bahwa pengajaran matematika, khususnya di sekolah dasar, belum mengutamakan pada pengembangan energi nalar (reasoning), logika dan proses berpikir siswa. Selama ini, pengajaran matematika lebih didominasi oleh metode ceramah yang mekanistik. Guru menjadi pusat sumber belajar dan siswa sebagai pendengar, meniru, dan mengikuti apa yang disampaikan. Siswa sedikit diberi ruang mengoptimalkan potensi dirinya, mengembangkan penalaran maupun kreativitasnya. Tak hanya itu, pembelajaran matematika seolah-olah diakui terlepas untuk mengembangkan kepribadian siswa. Pembelajaran matematika cenderung terpeleset pada segi kognitif saja (overkognitif), padahal pengembangan kepribadian merupakan anggota dari kecakapan hidup yang mempunyai fungsi perlu di dalam kehidupan.

Menghadapi suasana tersebut, diperlukan sebuah solusi alternatif yang dapat menjadikan pembelajaran matematika menjadi lebih humanistik, menyenangkan, dan mengutamakan kreativitas siswa. Pembelajaran yang tidak hanya berkutat pada segi kognitif, melainkan lebih mengutamakan pada internalisasi nilai-nilai sebagai upaya membentuk kecerdasan dan kepribadian sosial siswa. Salah satunya yaitu dengan memanfaakan teknologi digital yang dapat mengintegrasikan pembelajaran matematika dengan budaya di dalam kehidupan nyata secara riil melalui teknologi 3D and Augmented Reality. Hal ini dapat dicapai melalui pembuatan Victory of Culture (VOC) Games.

Implementasi Media Pembelajaran VOC-Games
Dalam implementasinya, VOC-Games dipadukan dengan metode pembelajaran cooperative learning. Melalui metode tersebut, disamping belajar matematika, siswa termasuk dapat: mengenal dan melestarikan budaya; berkerjasama; menghormati perbedaan; dan melatih keterampilan sosial.

Adapun ketetapan permainannya diantaranya: (1) Pembentukan 4 Kelompok pemain secara berbeda. (2) Mekanisme permainan seperti permainan halma, terjadi dengan mengocok dadu secara bergiliran. (3) Jika berhenti di daerah lawan, pemain melaksanakan scanning barcode. (4) Penampilan soal berbasis 3D Augmented Reality, dan (5) Nominasi pemenang berdasarkan alur poin tim tertinggi. Yakni, Tim Cerdas, Tim Jenius, Tim Hebar, Tim Kompak.

Harapannya, dengan memadukan sarana pembelajaran interaktif dan metode pembelajaran yang mendukung, pembelajaran matematika dapat lebih menyenangkan dan bermodus “menjadi”. Dimana semua proses pembelajaran diupayakan untuk menjadikan peserta didik menjadi dirinya sendiri. Apa yang dipelajari peserta didik menjadi anggota kepribadiannya, tidak hanya mengutamakan pada ilmu yang dapat saja hilang tak membekas. Matematika bukan hanya soal angka, budaya termasuk bukan soal sejarah. Kolaborasi matematika dan budaya dapat menghadirkan mendidik pembawaan baik dengan analisis yang brilian.

Baca Juga :