Konflik status dan konflik peran

Konflik status dan konflik peran

Seseorang yang mengalami mobilitas sosial, naik ke kedudukan yang lebih tinggi, atau turun ke kedudukan yang lebih rendah, dituntut untuk mampu menyesuaikan dirinya dengan kedudukannya yang baru.

            Kesulitan menyesuaikan diri dengan statusnya yang baru akan menimbulkan konflik status dan konflik peran.

            Konflik status adalah pertentangan antar-status yang disandang oleh seseorang karena kepentingan-kepentingan yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan banyaknya status yang disandang oleh seseorang.

             Konflik peran merupakan keadaan ketika seseorang tidak dapat melaksanakan peran sesuai dengan tuntutan status yang disandangnya. Hal ini dapat terjadi karena statusnya yang baru tidak disukai atau tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Post Power Syndrome merupakan bentuk konflik peran yang dialami oleh orang-orang yang harus turun dari kedudukannya yang tinggi.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial
  2. Faktor Struktural

            Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Contohnya ketidakseimbangan jumlah lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pelamar kerja.

Faktor struktural meliputi:

  1. Struktur Pekerjaan

Sebuah masyarakat yang kegiatan ekonominya berbasis industri dengan teknologi canggih, tentunya yang berstatus tinggi akan lebih banyak dibandingkan dengan yang berkedudukan rendah. Sehingga untuk itu yang berkedudukan rendah akan terpacu untuk menaikkan kedudukan sosial ekonominya.

  1. Perbedaan Fertilitas

Setiap masyarakat memiliki tingkat fertilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi  atau rendah. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses mobilitas sosial yang akan berlangsung.

  1. Ekonomi Ganda

Setiap negara yang menerapkan sistem ekonomi ganda (tradisional dan modern) sebagaimana terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika, tentunya akan berdampak pada jumlah pekerjaan, baik yang berstatus tinggi maupun yang rendah. Bagi masyarakat yang berada dalam tekanan sistem ekonomi ganda seperti ini, mobilitasnya terrgantung pada keberhasilan dalam melakukan pekerjaan di bidang yang diminatinya karena dalam masyarakat seperti ini (modern) kenaikan status sosial sangat dipengaruhi oleh faktor prestasi.

  1. Faktor Individu

Faktor individu ini lebih menekankan pada kualitas dari orang perorang, baik dilihat dari tingkat pendidikan, penampilan maupun keterampilan pribadinya.

  1. Perbedaan Kemampuan

Setiap inidvidu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

  1. Orientasi Sikap Terhadap Mobilitas

Setiap individu memiliki cara yang beragam dalam mengupayakan   meningkatkan prospek mobilias sosialnya.

  1. Faktor Kemujuran

Usaha adalah sebagai proses untuk meraih kesuksesan. Tetapi kemujuran tetap berada pada posisi yang tidak bisa kita anggap sepele.

  1. Faktor Status Sosial

Status sosial orang tua akan terwarisi kepada anak-anaknya.

  1. Faktor Keadaan Ekonomi

Masyarakat desa yang melakukan urbanisasi karena akibat himpitan ekonomi di desa. Masyarakat ini kemudian bisa dikatakan sebagai masyarakat yang mengalami mobilitas.

  1. Faktor Situasi Politik

Kondisi politik suatu negara dapat menjadi penyebab terjadinya mobilitas sosial. Karena dengan kondisi politik yang tidak menentu akan sangat berpengaruh terhadap struktur keamanan. Sehingga, memunculkan sebuah keinginan masyarakat untuk pindah ke daerah yang lebih aman.

  1. Faktor Kependudukan (demografi)

Dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat dapat mengakibatkan sempitnya lahan pemukiman dan mewabahnya kemiskinan, sehingga menuntut masyarakat untuk melakukan transmigrasi[4]

  1. Keinginan melihat daerah lain

Apabila keinginan melihat daerah lain itu dikuasai oleh jiwa (mentalitas) mengembara, biasanya kuantitas mobilitas agak terbatas pada orang-orang atau suku bangsa tertentu. Suku Minangkabau dan suku Batak misalnya, sering dikatakan memiliki jiwa petualang. Ada semacam naluri yang hidup di dalam jiwa pemuda Minang dan Batak untuk merantau ke daerah lain, atau melihat kehidupan di kota lain, sebelum mereka menjalankan pekerjaannya ditempat yang tetap[5]

  1. Faktor Agama

Agama juga menurut penulis memegang peranan penting dalam mobilitas sosial khususnya agama Islam. Dalam Surat Ar Ra’du:11 Allah SWT berfirman:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بأنفسهم        – الرعد: ١١-

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu berusaha merubah nasib mereka”. QS. Ar Ra’du:11

Islam selalu mendorong ummatnya untuk melakukan gerakan perubahan sosial ke arah mobilitas sosial vertikal ke atas (climmbing).

Dalam sebauah Hadits Rasulullah SAW memotivasi untuk terus bekerja menjadi yang terbaik:

من كان

 

sumber :

https://radiomarconi.com/