Konsekuensi Hukum Akad Qardh

Konsekuensi Hukum Akad Qardh

2.4.1        Hak Memiliki dan Status Akad

Menurut qaul ashah, muqtaridl berstatus memiliki atas muqradl, terhitung sejak penerimaan muqradl (qabdl), sebagaimana dalam akad hibbah. Sebab, sejak penerimaan tersebut, muqtaridl telah memiliki otoritas untuk mentasarufkan muqradl.[7]

Dalam pendapat yang sependapatmenurut Abu Hanifah dan Muhammad, baru berlaku apabila terjadi serah terima barang atau uang.[8] Sesorang yang telah meneriman abrang atau jasa tersebut merupakan seorang peminjam dan barang atau jasa tersebut menjadi miliknya namun perlu digaris bawahi bahwa ia juga memiliki kewajiban untuk mengembalikan sejumlah yang sama (mitsli). Abu Yusuf berpendapat bahwa peminjam (muqtaridh) tidak memiliki hak kepemilikan atas objek qardh selama barang itu masih utuh.

Sementara itu, Ulama Malikiyah berpendapat bahwa hak kepemilikan dalam qardh disamakan seperti hibah, sedekah dan ‘ariyah (meminjamkan barang). Ketiga hal tersebut berlaku dan mengikat setelah terjadinya transaksi atau ijab qabul, meski objeknya belum diserahkan. Peminjam diperbolehkan mengembalikan pinjaman dalam bentuk barang yang sama dengan yang dipinjamnya juga dapat mengembalikannya dengan barang yang dipersamakan dengan yang dipinjam. Baik harta itu termasuk harta harta mitsli maupun tidak. Hal itu selama harta tersebut tidak mengalami perubahan dengan bertambah atau berkurang. Jika berubah, maka harus mengembalikan dengan barang yang sama.

Ulama Syafi’iyah dalam riwayat yang paling shahih dan ulama Hanabilah berpendapat bahwa hak kepemilikan qardh berlaku dengan serah terima. Menurut Syafi’i, peminjam mengembalikan harta yang semisal manakala harta yang dipinjam adalah harta yang mitsli, karena yang demikian itu lebih dekat dengan kewajibannya. Dan jika yang dipinjam adalah qimiy (harta yang dihitung berdasar nilai), maka ia mengembalikan dengan barang semisal secara bentuk, karena Rasulullah telah berutang unta bakr (yang berusia muda) lalu mengembalikan unta usia ruba’iyah, seraya berkata:

“Sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang paing baik dalam membayar utang.”

Menurut Hanabilah, dalam barang-barang yang ditakar (makilat) dan ditimbang (mauzunat), sesuai dengan kesepakatan fuqaha, dikembalikan dengan barang yang sama. Sedangkan dalam barang yang bukan makilat dan mauzunat, ada dua pendapat. Pertama, dikembalikan dengan harganya yang berlaku pada saat berutang. Kedua, dikembalikan dengan barang yang sama yang sifat-sifatnya mendekati dengan barang yang diutang atau dipinjam.[9]

Sumber :

https://callcenters.id/