Macam - Macam Ijtihad

Macam – Macam Ijtihad

Macam – Macam Ijtihad

Macam – Macam Ijtihad

Dr. Ad-Duwalibi, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Wahbah (h. 594)

Membagi macam ijtihad kepada tiga macam (sebagian diantaranya juga ditunjuk oleh Asy-Syathibi di dalam (al-muwafaqotnya):

 

Al-Ijtihadul Bayaniy yaitu menjelaskan (bayan)

Hukum-hukum Syar’iyahdari nash-nash syari’ (yang memberi syari’at yang menentukan syari’at).Ijtihad bayani merupakan metode ijtihad yang lebih menitikberatkan kepada kajian kebahasaan. Ijtihad bayani  adalah pengetahuan kemampuan untuk sampai kepada hukum yang dimaksud oleh nash dan zhanni tsubut atau dalalahnya, atau zhanni kedua-duanya. Inilah yang menjadi ruang lingkup ijtihad, yaitu batas-batas yang diberi toleransi untuk memahami nash dan mentarjih atau mengutamakan beberapa maksudnya, atau mengetahui sasaran nash dan jalurnya. Pengistilahan ijtihad bayani, karena berkaitan dengan penjelasan terhadap nash, yaitu pembatasan terhadap ruang lingkup nash, hal-hal apa saja yang menjadi ruang lingkup tersebut menurut pembuat syara’. Ijtihad model ini disepakati oleh seluruh ulama.

 

Al-Ijtihadul Qiyasiy yaitu meletakan (wadI’an)

Hukum-hukum syar’iyahuntuk kejadian-kejadian/peristwa-peristiwa yang tidak terdapat di dalam al-kitab dan as-sunnah, dengan jalan menggunakan qiyas atas apa yang terdapat di dalam nash-nash hukum syar’i. Menurut Muhammad Salam Madkur, ijtihad qiyasi adalah sebuah ijtihad dimana seorang ahli fiqih mengerahkan kemampuannya untuk sampai kepada hukum yang tidak dijelaskan oleh nash qathi’ maupun zhanni, juga tidak diperkuat ijma’.Ahli fiqih tersebut akan sampai kepada hukum dengan memperhatikan indikator-indikator (imarah-imarah) dan jalan-jalan (wasilah-waslah) hukum yang telah ada.

 

Al-Ijtihadul Ishthishlahiy, inipun juga meletakan (wadI’an)

hukum-hukum syar’iyah, untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang untuk itu tidak terdapat di dalam al-kitab dan as-sunnah, dengan mempergunakanar-ro’yuyang disandarkan atas ishtishlah. Menurut Muhammad Salam Madkur Ijtihad Istishlahi adalah pengorbanan kemampuan untuk sampai kepada hokum syara’ (Islam) dengan menggunakan pendekatan kaidah-kaidah umum (kulliyah), taitu mengenai masalah yang mungkin digunakan pendekatan kaidah-kaidah umum tersebut, dan tidak ada nash yang khusus atau dukungan ijma’ terhadap masalah itu. Selain itu, tidak mungkin pula diterapkan metode qiyas atau metode istihsan terhadap masalah itu. Ijtihad ini, pada dasarnya merujuk kepada kaidah jalb al-mashlahah wa daf’ al-mafsadah (menarik kemaslahatan dan menolak kemafsadatan), sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan untuk kaidah-kaidah syara’.

 

buku Pengantar Ilmu Fiqh karangan T.M.H Ash-Shiddiqiey

Macam-macam ijtihad adalah:

  1. Dengan segala kemampuan untuk sampai kepada hukum yang dikehendaki dari nash yang dhanni tsubutnya, atau dhanni dalalahnya. Dalam hal ini kita berijtihad dalam batas memahami nash dan mentarjihkan sebagian atas yang lain, seperti mengetahui sanad dan jalannya sampai kepada kita.
  2. Dengan segala kesungguhan berupaya memperoleh sesuatu hukum yang tidak ada nash qath’i, nash dhanni dan tidak ada pula ijma’. Dalam hal ini kita memperoleh hukum itu dengan berpegang kepada tanda-tanda dan wasilah-wasilah yang telah diletakkan syara’ seperti qiyas dan istihsan. Inilah yang disebut ijtihad birra’yi.
  3. Dengan segala kesungguhan berupaya memperoleh hukum-hukum syara’ dengan jalan menerapkan kaidah-kaidah kulliah. Ijtihad ini berlaku dalam  bidang yang mungkin diambil dari kaidah dan nash-nash yang kulliah, taka adanya suatu nash tertentu, tak ada pula ijma’ dan tidak pula ditetapkan dengan qiyas atau istihsan.

Hal ini sebenarnya untuk mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemafsadatan, sesuai dengan kaidah-kaidah syara’.

Baca Juga :