Manyambut Haroro Ni Boru (Mangupah Anak Dohot Parumaen)

Manyambut Haroro Ni Boru (Mangupah Anak Dohot Parumaen)

Manyambut Haroro Ni Boru (Mangupah Anak Dohot Parumaen)

Manyambut Haroro Ni Boru (Mangupah Anak Dohot Parumaen)

Dari pihak orang tua lelaki sementara menanti kedatangan kedua mempelai bersama rombongan, telah diadakan persiapan antara lain:

  1. Kulit pisang sitabar selembar, panjang 50 cm.
  2. Daun dingin-dingin, dua atau tiga lembar.
  3. Padang togu atau beberapa lembar.

               Semua persiapan itu ditaruh di atas tangga pertama. Setelah aba-aba yang menyatakan kedatangan kedua mempelai maka pihak ibu dan bapak sudah berdiri berdampingan di atas tangga untuk menyambut kedatangan rombongan:

1)      Ayah menyambut mempelai laki-laki.

2)      Ibu menyambut mempelai perempuan.

               Setelah kedua mempelai menginjak kulit pisang sitabar dan langsung di papah duduk di tempat khusus yang dipersiapkan yaitu di juluan, dari ruangan tengah atau utama. Setelah mereka duduk, ayah meminta anak boru bagas memberikan (mengundang) kepada semua anggota masyarakat dalam huta ( melalui), Burangir Barita di dalam Haronduk na tutup.

               Selesai marontang (melalui) haronduk tersebut digantungkan di samping dinding pintu kamar pengantin. Apabila semua undang yaitu, Hatobangon, Harajaaon, dan orang kaya sudah hadir, suhut memberitakan kedatangan kedua mempelai dalam keluarganya. Kemudian orang kaya meminta agar:

1)      Tolu sauduran memberikan hasil misinya, secara berturut-turut mulai dari kahanggi, anak boru, dan hatobangon, menjelaskan tugas yang dibebankan kepada mereka.

2)      Tolu sauduran dari akum ibu menceritakan semua prosesi adat yang mereka emban.

3)      Pembawa indahan tungkus juga memberikan hal sama (cukup satu orang saja).

               Selesai acara pelaporan proses menjemput boru dalam sidang tersebut, kemudian dialusi (disambut) oleh Hasuhuton, Kahanggi dan Anak boru dimulai dari kaum ibu kemudian dilanjutkan oleh kaum bapak, maka Hatobangon, dan Harajaon pun dengan sendirinya menerima dan merestuinya. Kegitan berikutnya adalah orang kaya meminta agar di hidangkan makanan khas dalam acara adat tersebut terbuat dari santan kelapa, beras pulut mentah dan gula aren (santan pamorgo-morgoi) dihidangkan (santapan penyejuk)

               Setelah santan pamorgo-morgoi semua terhidang, maka Namborunya (Martua perempuan) datang membawa Burangir surdu-surdu (sirih sambutan) langsung disurduhon (diberikan) kepada anak dan parumaennya (menantu) dengan ucapan:

“on mada parumaen bagas ni tondi dohot badan , sai doa magora donok parsaulian, mula adong namilas di tonga dalan tinggal di dalan ma i, horas ma”.

               Lalu namborunya santan pamorgo-morgoi untuk dimakan kedua mempelai. Hidangan ini disajikan dalam piring sapa (piring khusus) yang pertama disuguhi (mengambil itaknya atu pulutnya) ialah mempelai laki-laki, kemudian baru mempelai perempuan.

  1. Mambaen Goar

          Di Angkola, Sipirok, dan Padang Lawas mambaen goar dan manyikko-nyikko biasanya dilaksanakan sesudah pengantin pulang dari tapian raya bangunan tetapi di luat lain yang melaksanakannya pada saat sebelum ke tepian raya bangunan.

  1. Martahi Rugi

          Sesudah acara paulak anak boru selesai, maka suhut bersama anak boru di huta itu berkumpul kembali di rumah suhut sihabolonan untuk membicarakan pembagian utang. Telah diungkapkan di bagian lain bahwa pihak suhut telah menyatakan keinginan untuk menyelenggarakan pesta adat perkawian anaknya, tetapi tidak mampu untuk melaksanakannya. Agar pesta adat itu tetap terlaksana, maka di dalam rapat-rapat adat telah disepakati bahwa kerabatnya bersedia menanggung biaya itu secara bersama-sama. Inilah sekarang yang hendak di rinci tentang siapa yang akan membayar berapa.

          Cara pembagian hararugi telah dilakukan dalam adat yaitu: sepertiga ditanggung oleh anak boru dan dua pertiga di tanggung oleh suhut. Bagian suhut yang dua pertiga itu di bagi tiga lagi, sepertiga dari bagian suhut ini ditanggung oleh kahanggi dan dua pertiga ditanggung oleh suhut sihabolonan. Biaya atau hararugiyang ditanggung bersama itu hanyalah lahanan horja.

  1. Indahan Tungkus Pasae Robu

          Baik keluarga boru maupun keluarga bayo belum boleh saling mengunjungi sebelum keluarga boru mengirimkan indahan tungkus pasae robu atau disebut juga indahan tompu robu. Menurrut nasehat leluhur apabila larangan itu di langgar maka akan timbul kesusahan. Oleh karena itu diaturlah dalam tatakrama adat kujung- mengunjungi itu dengan didahului kunjungan resmi dari pihak borudalam hal ini mora.

  1. Mebat Lungun

          Seluruh rangkaian acara pernikahan belum selesai, karena masih ada satu acara yang penting yaitu mebat. Acara tertakhir ini adalah kedatangan boru kepada simatobangnya yang dihadiri oleh kaum kerabat. Waktu yang dipilih untuk mebat lungun harus benar-benar disepakati kedua kedua belah pihak keluarga agar persiapan acara ini dapat dilakukan sebaik-baiknya.

          Pada kesempatan berkunjung inilah boru menerima pemberian dari simatobangna, unjuk tulang serta kerabat lainnya. Pada umumnya cara pemberian barang (mangalehen barang) ini dilakukan pada waktu mebat. Tetapi dapat juga dilakukan pada waktu pabuat boru. Ragam, mutu dan jumlah barang yang diberikan itu menggambaran besar kecilnya batang bobanunjuk tulang serta serta tingkat hamoraaon. Biasanya barang yang diberikan adalah alat-alat dapur dan pecah belah seperti hudon, huali, sonduk, ampang, pinggan, mangkuk, tapak sambong, dan lain-lain di tambah dengan podoman, amak, kasur, bantal, seperei, beragam kain, lemari, mesin jahit dan lain-lain barang yang diperlukan untuk membentuk satu rumah tangga yang baru.


Baca Juga :