Mengenal Karakter Hukum Islam Berdasarkan Prinsip Hukumnya

Mengenal Karakter Hukum Islam Berdasarkan Prinsip Hukumnya

Mengenal Karakter Hukum Islam Berdasarkan Prinsip Hukumnya

 

Mengenal Karakter Hukum Islam Berdasarkan Prinsip Hukumnya

 

Berbicara Hukum dalam paradigma Hukum Islam teringat Syeh Ahmad Bin Abdul Latif dalam tasnif  kitab ushul fiqihnya “al hukmu huwa khithobullahi alladzi yataallaku bi afalil mukallifin” artinya: Hukum adalah kithob Allah yang berhubungan dengan perbuatan seorang mukallaf. Mukalaf adalah seorang Muslim, akil,baliq. ketika seseorang  sudah masuk mukallaf maka dia akan di kenai Hukum Allah yang berkenaan denganya.
Dan esensi dari hukum islam adalah untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia,dalam mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat kelak.Agar segala ketentuan (hukum)yang terkadung dalam syari’at islam tersebut bisa diamalkan oleh manusia, Maka manusia harus bisa memahami segala ketentuan yang di kehendaki oleh Allah SWT yang terdapat dalam syari’at Islam.

Berdasarkan prinsipnya hukum Islam sejalan dengan kemashlahatan umat. Hukum islam memiliki karateristik yang harus dipahami agar penerapannya tetap sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Pada makalah ini akan dibahas tentang karateristik hukum islam.

 

Ruang Lingkup Hukum Islam

Prof. T.M. Hasbi Ashiddiqqie, merinci lebih lanjut ruang lingkup Hukum Islam dengan mengembangkan menjadi delapan topik bahasan, yaitu:

1. Ibadah
Pada bagian ini dibicarakan beberapa masalah masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan berikut seperti Thaharah (bersuci); Ibadah (sembahyang); Shiyam (puasa); Zakat; Zakat Fithrah; Haji; Janazah (penyelenggaraan jenazah); Jihad (perjuangan); Nadzar; Udhiyah (kurban);

2. Ahwalusy Syakhshiyyah
Satu bahasan yang terhimpun dalam bab ini membicarakan masalah-masalah yang terkonsentrasi seputar aturan hukum pribadi (privat) manusia, kekeluargaan, harta warisan, yang antara lain meliputi persoalan: Nikah; Khithbah (melamar); Mu’asyarah (bergaul); Nafaqah; Talak; Khulu’; Fasakh; Li’an; Zhihar; Ila’; ‘Iddah; Rujuk; Radla’ah; Hadlanah; Wasiat; Warisan; Hajru; dan Perwalian.

3. Muamalah Madaniyah
Biasanya disebut muamalah saja yang didalamnya terdapat pembicaraan masalah-masalah harta kekayaan, harta milik, harta kebutuhan, cara mendapatkan dan menggunakan, yang meliputi masalah: Buyu’ (jual-beli); Khiyar; Riba (renten); Sewa-menyewa; Hutang-piutang; Gadai; Syuf’ah; Tasharruf; Salam (pesanan); Wadi’ah (Jaminan); Mudlarabah dan Muzara’ah (perkongsian); Hiwalah; Pinjam-meminjam; Syarikah; Luqathah; Ghasab; Qismah; Hibah dan Hadiyah; Kafalah; Waqaf ; Perwalian; Kitabah; dan Tadbir.

4. Muamalah Maliyah
Kadang-kadang disebut Baitul mal saja. Inilah bagian dalam hukum Islam yang mengulas tentang harta kekayaan yang dikelola secara bersama, baik masyarakat kecil atau besar seperti negara (perbendaharaan negara=baitul mal). Pembahasan di sini meliputi: Status milik bersama baitul mal; Sumber baitul mal; Cara pengelolaan baitul mal; Macam-macam kekayaan atau materi baitul mal; Obyek dan cara penggunaan kekayaan baitul mal; Kepengurusan baitul maal; dan lain-lain.

5. Jinayah dan ‘Uqubah (pelanggaran dan hukuman)
Biasanya dalam kitab-kitab fiqh ada yang menyebut jinayah saja. Dalam bab ini di bicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan pelanggaran, kejahatan, pembalasan, denda, hukuman dan sebagainya. Pembahasan ini meliputi:
Pelanggaran; Kejahatan; Qishash (pembalasan); Diyat (denda); Hukuman pelanggaran dan kejahatan; Hukum melukai/mencederai; Hukum pembunuhan; Hukum murtad; Hukum zina; Hukuman Qazaf; Hukuman pencuri; Hukuman perampok; Hukuman peminum arak; Ta’zir; Membela diri; Peperangan; Pemberontakan; Harta rampasan perang; Jizyah.

6. Murafa’ah atau Mukhashamah
Pokok bahasan dalam bagian ini menjelaskan berbagai masalah yang dapat dikategorikan ke dalam kelompok persoalan peradilan dan pengadilan. Pembahasan pada bab ini meliputi: Peradilan dan pendidikan; Hakim dan Qadi; Gugatan; Pembuktian dakwaan; Saksi; Sumpah dan lain-lain.

7. Ahkamud Dusturiyyah
Bagian ini adalah bidang hukum tata Negara dalam Islam yang umumnya membicarakan berbagai masalah-masalah yang menyangkut seputar ketatanegaraan. Pembahasannya antara lain meliputi: Kepala negara dan Waliyul amri; Syarat menjadi kepala negara dan Waliyul amri; Hak dan kewajiban Waliyul amri; Hak dan kewajiban rakyat; Musyawarah dan demokrasi; Batas-batas toleransi dan persamaan; dan lain-lain

8. Ahkamud Dualiyah (Hukum Internasional)
Bagian ini lebih tepat bila disebut sebagai kelompok masalah hubungan internasional. Pembicaraan pada bab ini meliputi: Hubungan antar negara, sama-sama Islam, atau Islam dan non-Islam, baik ketika damai atau dalam situasi perang; Ketentuan untuk orang dan damai; Penyerbuan; Masalah tawanan; Upeti, Pajak, rampasan; Perjanjian dan pernyataan bersama; Perlindungan; Ahlul ‘ahdi, ahluz zimmi, ahlul harb; dan Darul Islam, darul harb, darul mustakman.

 

Karakteristik Hukum Islam

Karakteristik mendasar dari hukum Islam adalah bersikap adaptif, artinya dapat menerima nilai-nilai baru yang berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perubahan zaman. Para ulama bersepakat bahwa sumber hukum Islam adalah wahyu dan rasionalitas. Wahyu meliputi al-Quran dan as-Sunnah, yang sering disebut sebagai dalil naqli, sedangkan rasio, akal, daya pikir, nalar disebut dalil aqli.
Karakteristik hukum Islam selain dapat dikenali melalui pemaknaannya, dan juga dapat dicermati lebih seksama melalui macam karakteristiknya yang meliputi:
1. Sapiential Ilahiyyah
Hukum Islam adalah pancaran nilai-nilai kebijaksanaan dari Tuhan. Nilai tersebut memancar melalui wahyu Tuhan (perspektif syar’i) yang kemudian dijadikan acuan baku pembentukan hukum Islam.
2. Humanistic Universal
Hukum Islam merupakan pancaran kasih sayang Tuhan untuk mengayomi umat manusia. Oleh karena itu ketetapan hukumnya selalu menghormati nilai-nilai kemanusiaan, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan mempertinggi rasa kemanusiaan dalam cakupan universal.
3. Kenyal
Kekenyalan tersebut direfleksikan pada dua sifat yang menyatu, yaitu sifat tsabat (permanen) dan abadiyyah (eternal) berupa teks syar’i dan hukum yang qath’i (absolut) untuk yang pertama dan sifat murunah dan tathawwur (elastis dan fleksibel) berupa hasil penalaran ijtihadiyyah dan hukum zhanni (relatif) untuk sifat yang kedua. Sifat tsabat menjadi pelestari identitas dan menjadi tiang pancang kesatuan Islam, sedangkan sifat murunah dan tathawwur menjadi daya elastisitas dan fleksibilitas serta mengantisipasi keragaman masa dan keanekaan massa sehingga akan terwujud secara legal.
4. Seimbang
Hukum Islam tidak mengenal ekstrimitas oposisi binary individu-sosial, formal-spiritual, dunia-akhirat, privat-publik, tetapi memelihara keseimbangan secara mapan dan sempurna antara pasangan ide tersebut.
5. Praktis dan Aplikatif
Salah satu sifat hukum Islam adalah praktis dan aplikatif, bukan suatu hukum yang teoritis idealistis. Ketetapan hukum Islam selalu dapat diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan riil. Karena hukum Islam menyediakan perangkat ketentuan alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan konsumen hukumnya.

Ciri-ciri Hukum Islam

Dari uraian di atas  dapat di tandai ciri-ciri (utama)hukum Islam, yakni: (1) merupakan bagian dan bersumber dari agama Islam. (2) mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat di pisahkan dari iman atau aqkidah dan kesusilaan atau akhlak Islam. (3)mempunyai dua istilah kunci yakni: (a) syari’at dan (b) fiqih.Syariat terdiri dari wahyu Allah dan Sunnah Nabi Muhamad, fiqih adalah pemahaman dan hasil pemahaman manusia tentang syari’ah. (4) terdiri dari dua bidang utama yakni: (a) ibadah dan  (b) muammalah dalam arti yang luas.

Ibadah bersifat tertutup karna telah sempurna dan muammalah dalam arti kusus dan lua bersifat terbuka untuk dikembangkan oleh manusia yang memahami syari’at dari masa ke masa. (5) stukturnya berlapis,terdiri dari: (a)  nas atau teks Alqur’an. (b) Sunah Nabi Muhamad (untuk syari’at). (c) hasil ijtihad manusia  yang mempunyai syarat tentang wahyu dan sunnah, (d) pelaksanaan dalam praktik baik. (e) berupa keputusan hakim,maupun berupa amalan- amalan  umat islam dalam masyarakat (untik fiqih). (6) mendahulukan kewajiban dari hak,amal dari pahala. (7) dapat dibagi menjadi:  (a) hukum taklifi atau hukum taklif  yakni al-ahkam al-khamsah yang terdiri dari lima kaidah,lima jenis hukum, lima kategori hukum, yakni ja’iz, sunnat, makruh, wajib, dan haram, dan (b) hukum wadh’I yang mengandung  sebab, syarat, halangan terjadi atau terwujudnya hubungan hukum.

Dalam bukunya Filsafat Hukum Islam,T.M.Hasbi Ash Shiddeqy ( 1975:156-212), menyebut cirri-ciri khas kash hukum islam. (8) berwatak universal,berlaku abadi untuk umat Islam di mana pun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam  di suatu tempat atau Negara pada sutu masa saja. (9) menghormati martabat manusia sebagai kersatuan jiwa dan rag, rohani dan jasmani saerta memelihara kemulian manusia  dan kemanusiaan secara keseluruhan. (10) plaksanaanya dalam praktik digerakkan oleh iman (akidah) dan akhlak umat Islam.

 

Artikel Terkait