Muqradl

Muqradl

 

Muqradl adalah obyek dalam akad qardlu yang disebut piutang (debit). Muqradl disyaratkan sesuatu yang sah dijual belikan dan bisa dispesifikasikan melalui kriteria (shifah) sebagaimana syarat muslam fih dalam akad salam. Sebab akad qardlu termasuk akad muawadlah, yakni memberikan kepemilikan dengan sistem imbalan (“iwad) dalam tanggungan (dzimmah) sebagaimana akad salam. Sesuatu yang tidak bisa di spesifikasikan melalui sifat, menurut satu versi, tidak sah dijadikan muqradl, sebab akad qardlu mewajibkan pengembalian ganti berupa padanya (mitsil), dan baranng yang tidak bisa dispesifikasi dengan sifat, tidak memiliki padanan. Sedangkan menurut versi lain sah, sebab barang yang memiliki padanan, kewajibannya mengembalikan ganti berupa qimah.

Hanya saja, terdapat beberapa pengecualian, dalam arti sah diakadi salam, namun tidak sah diakadi qardlu, atau sebaliknya. Diantaranya:

  1. Tidak sah memberikan pinjaman hutang berupa budak perempuan kepada muqtaridl yang halal istimta’nya. Sebab,menurut versi yang mengatakan bahwa,muqtaridl berstatus memiliki muqradl dengan penerimaan (qabl ), maka konsekuensinya, muqtaridl akan sah melakukan istimta’ terhadap budak perempuan (muqradl ) tersebut.  Dan ketika kemudian budak perempuan dikembalikan oleh muqtaridl,atau ditarik oleh muqridl sewaltu-waktu,mengingat akad qardlu bersifat ja’iz dari kedua belah pihak,maka muatan akad qardlu demikian sama halnys dengan meminjamkan budak perempuan dengan pelayanan seks yang dilarang. Sedangkan menurut versi yang mengatakan bahwa,muqtaridl belum berstatus memiliki muqradl dengan penerimaan qabdl,melainkan dengan tasaruf,maka akad qardlu sah. Sebab konsekuensi muatan terlarang tersebut tidak akan ada.
  2. Sah memberikan pinjaman hutang berupa hutang roti,sebab telah berlaku secara massif.
  3. Sah memberikan pinjaman berupa separuh kebawah dari sebuah bangunan,sebab muqradl demikian memiliki padanan.

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/