Pembiayaan dan Pengelolaan Pendidikan

Pembiayaan dan Pengelolaan Pendidikan

Pembiayaan pendidikan di artikan sebagai usaha menyediakan sumber dana, sistem penelolaan dan penggunaannya untuk berbagai kegiatan,termasuk pendidikan. Pembiayaan diperlukan untuk mengadakan atau membeli segala hal yang dibutuhkan untuk pendidikan, seperti membangun gedung sekolah,ruang belajar mengajar,perpustakaan, gedung laboratorium dan praktikum,gedung admisntrasi,gedung pimpinan, pengadaan peralatan belajar mengajar, penggaji guru,dan staf administrasi,pengadaan tulis menulis, kegiatan promosi,dan penyelenggaraan berbagai kegiatan pendidikan.Walaupun belum dijumpai informasi sejarah yang pasti dan meyakinkan tentang biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan  pada zaman Bani Umayyah, namun dipastikan bahwa kegiatan pendidikan yang berlangsung di istana,badiah,perpustakaan,al-bimaristan,,di samping diselenggarakan di kuttab,dan mesjid,jelas membutuhkan pembiayaan. Karena tidak mungkin kegiatan pendidikan tersebut dapat berjalan tanpa pembiayaan.

Para khalifah Bani Umayyah seperti Muawiyah ibn Abi Sufyan, Abd al-Malik ibn Marwan,al Walid ibn Abd. Al-Malik,Umar ibn Abd, al-Aziz, dan Hasyim ibn Abd.al-Malik sudah pasti mengeluarkan pembiayaan untuk pendidikan. Pengelolaan pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan merencakan (planning), mengorganisasikan (organizing), melaksanakan (actualling), mengawasi (controlling), membina (supervising), dan menilai (evaluating) hal-hal yang berkaitan dengan seluruh aspek pendidikan : kurikulum, proses belajar mengajar hasil pembelajaran, kinerja para guru dan staf, pelayanan administrasi pendidikan,dan respon masyrakat merupakan sesuatu yang dinamis dan mudah pengaruhi oleh berbagai faktor dan keadaan.

Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan pada berbagai lembaga pendidikan di zaman Bani Umayyah sebagaimana tersebut diatas, sudah pasti memerlukan pengelolaan. Berdasarkan informasi sejarah bahwa pengelolaan kegiatan pendidikan pada zaman Bani Umayyah di lakuka secara desentralisasi yakni pemerintah menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada kebijakan masing-masing gubernur di provinsi.

Adapun pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan yang bersifat umum saja, misalnya kebijakan tentang peerlunya program Arabisasi di zaman khalifah Abd.al-malik ibn Marwan. Melaksanakan program ini masing-masing provinsi menyelenggrakan program tersebut sesuai dengan kebijakannya.

Lulusan

Lulusan pendidikan dapat diartikan mereka yang telah tamat mengikuti pendidikan pada jenjang tertentu yang selanjutnya mendapat gelar atau sebutan yang menunjukkan keahliannya, dan memiliki otoritas atau kepercayaan untuk mengajarkan ilmunya. Para lulusan pendidikan di zaman Bani Umayyah ini terdiri dari para tabi’in, yaitu mereka yang hidup berguru kepada para sahabat Nabi, atau generasi kedua setelah sahabat.

Dengan demikian hubungan mereka dengan Rasulullah terletak pada hubunganmission,gagasan,cita-cita,dan semangat, dan bukan pada hubungan persahabatan atau perkawanan. Di antara para tabi’in tersebut walaupun tidak sempat berjumpa dan berguru dengan Nabi Muhammad SAW, namun visi,misi,dan tujuan perjuangannya tidak berbeda dengan yang dibawa oleh Nabi  Muhammad Saw, bahkan diantara para tabi’in tersebut ada yang masih memiliki keturunan dengan Nabi Muhammad Saw.

Para lulusan pendidikan tersebut sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan yang mereka ikuti. Ada yang merupakan lulusan dari pendidikan istana, badiah,perpustakaan,dan rumah sakit, serta ada pula yang belajar ilmu-ilmu dasar di masjid dan kuttab. Selanjutnya dengan kecerdasan, keseungguhan,ketabahan, dan keuletannya, ia terus mengembangkan ilmunya secara autodidak untuk selanjutnya menjadi seorang ahli. Belum ada informasi yang pasti tentang berapa jumlah lulusan pendidikan zaman Bani Umayyah. Pada bagian ini hanya akan dikemukakan beberapa orang saja yang namanya sering didengar di kalangan para sarjana dan para pakar studi Islam. Mereka itu adalah Thawus bin Kaisan (ahli Ibadah atau zahid), al-Hasan al-Bashri (ahli fiqih dan ahli tasawuf yang kuat hafalannya), Muhammad bin Sirin (ahli Fiqih dan perawi hadis), al-Imam al-Zuhri (ahli Hadis dan hafidz), al-Imam Abu Hanifah (ahli Fiqih) Abdurrahman bin Amr al-Auza’I (ahli fiqih), Sufyan al-Tsauri (ahli Hadis) Malik bin Anas (ahli hadis dan fikqih), Waqi’ bin al-jarrah (ahli fiqih), yahya bin said al-Qaththani (ahli Hadis),Muhammad bin Idris al-syafi’I (ahli fiqih), Yahya bin Ma;in (ahli hadis) dan Ahmad bin Hambal (ahli Hadis dan fiqih).

Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/