PENGARUH KESULITAN BELAJAR SISWA

PENGARUH KESULITAN BELAJAR SISWA

PENGARUH KESULITAN BELAJAR SISWA

PENGARUH KESULITAN BELAJAR SISWA

PENGARUH KESULITAN BELAJAR SISWA

 

 

  1. Hakikat Belajar
  2. Pengertian Belajar

kabin.co.id – Di kalangan ahli psikologi terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar (learning). Namun, baik secara eksplisit maupun secara implisit pada akhirnya terdapat kesamaan maknanya, ialah bahwa definisi mana pun konsep belajar itu selalu menunjukkan kepada suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu (Hilgard, 1948 : 4)

 

 

  1. Beberapa Karakteristik Perilaku Belajar

Secara implisit dari keterangan di atas, kita dapat mengidentifikasi beberapa ciri perubahan yang merupakan prilaku belajar, di antaranya :

  1. Bahwa perubahan Intensional, dalam arti pengalaman atau praktek atau latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukannya dan bukan secara kebetulan; dengan demikian perubahan karena kemantapan dan kematangan atau kelatihan atau karena penyakit tidak dapat dipandang sebagai perubahan hasil belajar.
  2. Bahwa perubahan itu positif, dalam arti sesuai seperti yang diharapkan (normatif) atau kriteria keberhasilan (criteria of success) baik dipandang dari segi siswa (tingkat abilitas dan bakat khususnya, tugas perkembengan, dan sebagainya) maupun dari segi guru (tuntutan masyarakat, orang dewasa sesuai dengan tingkatan standar kulturalnya).
  3. Bahwa perubahan itu efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar itu (setidak-tidaknya sampai batas waktu tertentu) relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah (problem solving), baik dalam ujian, ulangan, dan sebagainya maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

 

  1. Makna Manifestasi Perbuatan Belajar

Meskipun terdapat titik pertemuan antara berbagai pendapat para ahli apa itu hakikat, atau esensi dari perbuatan belajar, ialah perbuatan perilaku dan pribadi, namun mengenai apa sesungguhnya yang dipelajari dan bagaimana manifestasinya masih tetap merupakan masalah yang mengundang interpretasi yang paling fundamental mengenai hal ini, ialah terletak pada dasar pandangan (basic assumpton atau basic ideas) yang dipergunakannya. Secara singkat dari pandangan itu dapat dirangkumkan bahwa yang dimaksud dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural, material dan behavioral, serata keseluruhan pribadi  (Gestalt atau sekurang kurangnya multidimensional) . secara singkat dapat dijelaskan, sebagai berikut.

  1. Belajar merupakan perubahan fungsional. Pendapat ini di kemukakan oleh penganut paham teori daya. (faculty psychology) yang lebih luas lagi termasuk ke dalam paham Nativisme. Paham ini berpendirian bahwa jiwa manusia itu terdiri atas sejumlah fungsi – fungsi yang memiliki daya atau kemampuan tertentu (misalnya daya mengingat,daya berpikir, dan sebagainya). Agar daya-daya itu berlaku secara fungsional, harus terlebih dahulu terlatih. Oleh karena itu dalam konteks ini, belajar berarti melatih daya(mengasah otak) agar ia tajam sehingga ia berguna, untuk menyayat atau memecah persoalan – persoalan dalam hidup ini.

Jadi hasil belajar dalam bidang tertentu, menurut teori ini, akan dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain. Dalam versi mutakhir, teori ini kita temukan sebagai teori kognitif yang dikembangkan oleh: Paget, dalam konteks teori keseimbangannya yang disebut accomondation. Dijelaskan bahwa struktur fungsi kognitif itu dapat berubah kalau individu berhadapan dengan hal-hal yang baru yang tidak dapat diorganisasikan ke dalam struktur yang telah ada (prinsip association). Dengan demikian, belajar dalam hal ini dapat mengandung makna sebagai : perubahan struktural (Lefrancois, 1975; Gage and berlinre 1975)

  1. Belajar merupakan perkayaan materi pengetahuan material pengetahuan (material dan atau perkayaan pola-pola sambutan (responses) perilaku baru (behavior). Pendapat ini dikemukakan oleh para penganut paham ilmu jiwa asosiasi yang lebih jauh lagi : paham empirisme, yang dipelopori oleh John Locke (Inggris) & Hebart (Swiss). Paham itu berasumsi bahwa pada saat kelahirannya jiwa manusia laksana tabula rasa (bersih tanpa noda) atau laksana bejana kosong yang masih harus diisi agar dapat berfungsi. Oleh karena itu, alam konteks ini belajar dapat diartikan sebagai suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafalan (memorizing). Pelajar tidak perlu selalu mengerti apa yang dihafalkannya. Yang penting diperolehnya tanggapan dan pengalaman sebanyak mungkin. Yang nantinya akan berfungsi sendirinya dengan melalui hukum-hukum asosiasi (persamaan,perlawanan, bersamaan waktunya dan sebagainya). Secara esensial, di sini tidak dikenal transfer dalam belajar, karena pelajar harus menguasai materinya sebanyak mungkin. Dalam fersi yang mutakhir, kaum behaviorisme yang ekstrem mengakui adanya prinsip-prinsip atau hukum asosiasi meskipun tidak menerima proses kejiwaan yang abstrak. Mereka lebih berpendirian bahwa apa yang diamati dan diukur (observable and mesurable) lebih penting dalam wujud prilaku (behavioral) dengan demikian : belajar dalam konteks ini, dapat diartikan sebagai proses memperoleh pengetahuan dalam pengalaman bentuk pola-pola sambutan perilaku kognitif,afektif, dan psikomotorik.
  2. Belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan. Pendapat ini dikemukakan oleh para penganut ilmu jiwa Gestalt, yang lebih jauh lagi bersumber pada paham organismic psychology.

 

 

Dalam konteks teori ini, belajar bukan hanya bersifat mekanis dalam kaitan stimulus response (S-R bond), melainkan perilaku organisme sebagai totalitas yang bertujuan (purposive). Keseluruhan itu lebih penting daripada hanya bagian. Dengan kata lain, meskipun yang dipelajarinya itu hal yang bersifat khusus, mempunyai makna bagi totalitas pribadi individu yang bersangkutan. Dalam teori ini terimplikasi bahwa tidak semua hal yang kita pelajari itu tidak semua hal yang kita pelajari selalu dapat diamati dalam wujud prilaku atau bersifat intangible mungkin pada waktu tertentu hanya pelajar itu sendiri yang dapat menghayati.

Dari ketiga pandangan di atas dapat kita simpulkan bahwa perbuatan dan hasil belajar mungkin dapat dimanifestasikan dalam wujud: (1) Pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta; informasi; prinsip atau hukum atau kaidah prosedur atau pola kerja atau teori sistem nilai-nilai dan sebagainya; (2) Penguasaan pola-pola prilaku kognitif (pengamatan) proses berpikir, mengingat atau mengenai kembali, prilaku afektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan dan sebagainya); prilaku psikomotorik (keterampilan-keterampilan psikomotorik termasuk yang bersifat ekspresif; (3) Perubahan dalam sifat-sifat kepribadian baik yang tangible maupun yang intangible.

 

 

  1. Prinsip-prinsip Belajar

 

Belajar seperti halnya perkembangan berlangsung seumur hidup, dimulai sejak dalam ayunan sampai liang lahat. Apa yang dipelajari dan bagaimana cara belajarnya pada setiap fase perkembangan berbeda-beda. Banyak teori yang membahas masalah belajar. Tiap teori bertolak dari asumsi atau anggapan dasar tertentu tentang belajar. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila ditemukan konsep atau pandangan serta praktek yang berbeda dari belajar. Meskipun demikian ada beberapa pandangan umum yang sama atau relatif sama di antara konsep-konsep tersebut. Beberapa kesamaan ini dipandang sebagai prinsip belajar.

Beberapa prinsip-prinsip belajar menurut Sukmadinata antara lain:

  1. Belajar merupakan bagian dari perkembangan.
  2. Belajar berlangsung seumur hidup.
  3. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, faktor lingkungan, kematangan serta usaha dari individu sendiri.
  4. Belajar mencakup semua aspek kehidupan
  5. Kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu
  6. Belajar berlangsung dengan guru ataupun tanpa guru
  7. Belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi
  8. Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks
  9. Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.
  10. Untuk kegiatan belajar tertentu diperlukan adanya bantuan atau bimbingan dari orang lain ( Sukmadinata; 2004: 165-167 ).

 

 

Baca Juga :