Realitas Politik Membelah Santri

Realitas Politik Membelah Santri

Realitas Politik Membelah Santri

Realitas Politik Membelah Santri

Realitas Politik Membelah Santri

Sejak dahulu, sejumlah kiai sudah berkiprah di dunia politik

. Mereka duduk sebagai wakil rakyat dan menyuarakan aspirasi yang diwakilinya.
Berita Terkait
Sejumlah Tokoh dan Pesantren Raih Santri of The Year 2019
Santri of The Year 2019 | Plt Dirjen PPU Kemendagri Sebut Santri Tiang Negara
Forum Santri Indonesia Mau Gelar Acara di Asrama Haji

Dunia politik terus berdinamika seiring berkembangnya zaman. Pun dengan pola pikir masyarakat pesantren, meliputi kiai dan santrinya.

Terhadap realitas demikian, pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, Zainuddin Syarif, mengelompokkan santri ke dalam tiga bagian.

Pertama, secara hubungan prismatik, santri terbagi menjadi dua,

yakni santri yang patuh penuh dan santri yang semi-patuh.

Santri jenis pertama ini, katanya, yang sam’an wa tha’atan atas apapun perintah kiainya. Ia betul-betul tidak punya pilihan selain apa yang telah kiainya tentukan.

Sementara santri jenis kedua ialah santri yang sebetulnya sudah memiliki pilihan sendiri, tetapi ia meninggalkannya demi kepatuhannya kepada sang kiai, entah karena khawatir tidak dapat berkah atau takut kualat.

“Dia akan mendapatkan kehidupan yang sengsara kalau tidak ikut. Pilihan politik itu pupus. Maka terpaksa dia harus mengikuti pilihan kiainya,” ujarnya saat diskusi panel Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Berbeda persoalannya ketika santri sudah berbaur dengan masyarakat,

entah sudah menjadi alumni, mahasiswa, ataupun pindah ke pondok lainnya.

Mereka ini, jelasnya, masih mempunyai rasa ikatan dengan kiainya sebagai panutan keagamaannya, tetapi lain soal terkait pilihan politiknya.

Kedua, santri yang terlibat aktif dalam dukung mendukung aktor politik tertentu, atau bahkan dirinya yang menjadi aktor politik. Hal demikian memungkinkan santri dan kiai berada di kubu yang berseberangan.

Pada santri yang demikian ini, Zainuddin melihat ada santri yang berani untuk tidak hanya sekadar berlawanan, tetapi menjatuhkan atau menjelekkan.

“Yang dilihat bukan kiainya lagi, tapi persoalan konflik pertaruhan politik. Dia menggunakan ujaran kebencian, bahkan berani menjelekkan kiainya,” katanya.

Zainuddin menyebut kecenderungan saat ini ada pada jenis kedua ini.

“Ini kecenderungan sekarang,” katanya dalam konferensi yang bertema Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam itu.

 

Baca Juga :