Sejarah Munculnya Madzhab Syafi’i

 Sejarah Munculnya Madzhab Syafi’i

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy Syafi’i setelah ilmunya tinggi dan fahamnya begitu dalam dan tajam serta mendapatkan izin dari gurunya yaitu Imam Maliki untuk memberi fatwa dalam fiqih sesuai dengan dasar madzhabnya sendiri, beliau mulai berijtihad dalam menentukan hukum Islam terlepas dari fatwa-fatwa gurunya baik Imam Maliki maupun Imam Hambali.[16]

Perlu diketahui bahwa Imam Syafi’i sebelum melawat ke Irak adalah termasuk salah seorang ulama’ pengikut madzhab Maliki karena beliau banyak mendapatkan ilmu pengetahuan dari Imam Maliki. Beliau mengajarkan kitab al Muwatha’ karangan Imam Maliki kepada para ulama’ yang datang berkunjung dari luar Madinah. Dan setelah beliau melawat ke Irak, beliau mengajarkan kitab al Ausath karangan Imam Hanafi serta mempelajari aliran madzhabnya.[17]

Setelah beliau melawat ke Irak, beliau menemui beberapa peristiwa yang baru. Kemudian beliau menyesuaikan pendapat-pendapatnya mengenai hukum dengan beberapa peristiwa baru tersebut. Setelah sekitar 2 tahun di Irak, beliau melawat ke Mesir dan menetap disana, lalu timbul pula daripadanya beberapa perubahan dari pendapat-pendapatnya yang lama ketika di Irak. Kemudiian beliau menyesuaikan pendapatnya dengan beberapa peristiwa yang baru yang ada di Mesir.[18]

Pada umumnya ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir, para penduduk di kala itu merupakan pengikut madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Kemudian setelah beliau mengajarkan pendapatnya yang baru di masjid Amr bin Ash, maka mulai berkembanglah aliran madzhab beliau di Mesir.[19]

Jadi pada mulanya berkembangnya madzhab Syafi’i ialah di Mesir. Kemudian berkembang pula di Irak dan mendapat kemajuan di Baghdad.

  1. C.

    Periode Fiqih Imam Syafi’i[20]

1)      periode Pertama

Makkah adalah periode pertama Imam Syafi’i berkiprah dalam bidang fiqih. Setelah meninggalkan kota baghdad, dia tinggal di Makkah selama sembilan tahun. Di kota Makkah ini dia telah mencurahkan waktunya untuk terjun di dunia ilmu pengetahuan. Di sana ia benar-benar telah mendapatkan kematangan ilmunya dan mampu menghimpun berbagai hadits yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Karena itu, Imam Syafi’i sering menemukan pertentangan antara hadits yang satu dengan yang lainnya dan dalam tataran praktis dia harus mengunggulkan satu pendapat di antara pendapat-pendapat lainnya. Pengunggulan pendapat tersebut bisa dilihat dari segi sanad hadits yang dijadikan sandarannya atau dari segi ketidakberlakuan sebuah dalil (nasikh mansukh).

Di Makkah Imam Syafi’i juga mendalami dalil-dalil al-Qur’an dan menghimpun  berbagai hadits . upaya tersebut membuatnya tahu sejauh mana kedudukan hadits di sisi al-Qur’an . kitab ar-Risalah adalah buah karya Imam Syafi’i selama periode makkah yang sengaja ia susun atas permintaan Abdurrahman al-Mahdi.

Sumber :

https://finbarroreilly.com/